Kultur Baru Pembelajaran Tantangan Baru Guru Masa Depan

Kemajuan penyelenggaraan pendidikan, dalam hal ini berkenaan dengan pembelajaran sangat ditunggu. Apalagi dengan telah lahir dan diterapkannya kurikulum 2013.  Konsekuensinya, dengan perubahan kurikulum tentu akan mengubah kegiatan operasional pembelajaran di sekolah. Sudah waktunya perubahan penyelenggaraan pembelajaran di sekolah terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.   Guru sebagai ujung tombak pelaksana pembelajaran di sekolah, perlu melakukan perubahan yang berarti dalam pembelajaran. Perubahan tersebut secara psikologis akan berpengaruh positif terhadap sikap dan perilaku siswa dalam pembelajaran. Pendidikan adalah hal yang paling penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bila dalam suatu negara terdapat pendidikan yang berkualitas, maka tentu akan berpengaruh terhadap produk generasi bangsa yang berkualitas pula. Untuk itu bila suatu bangsa ingin maju, tingkatkanlah terlebih dahulu kualitas para generasi bangsa dengan cara meningkatkan mutu pendidikan. Namun, tidaklah mudah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan hanya membalikkan telapak tangan. Butuh kerjasama dari semua pihak yaitu pemerintah, guru, orang tua, dan yang paling penting adalah para peserta didik.  Tidak sedikit permasalahan-permasalahan muncul pada pendidikan, terutama pada pendidikan masa kini yang semakin banyak menuai permasalahan dan kurang antisipasi objek permasalahan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan baik Akibatnya, peserta didik akan merasa menikmati kegiatan. Peserta didik merasakan bahwa pembelajaran bukanlah suatu yang membebaninya. Akan tetapi, peserta didik akan merasakan enjoy dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, akan berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik.

Dari monolog ke dialog. Kegiatan pembelajaran yang selama ini bersifat monolog, hendaklah diubah dalam bersifat dialog. Peran guru tidak lagi mendominasi kegiatan pembelajaran. Peran guru diubah menjadi fasilitator, pembimbing, dan motivator yang bermakna bagi peserta didik. Berilah kesempatan peserta didik untuk berbuat dan bekerja dalam pembelajaran. Berilah kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan saintific, peserta didik dibimbing untuk mengamati, mencatat apa yang diamati, mengajukan pertanyaan, mendiskusi dengan temannya, mempresentasikan hasil pengamatannya.

Instrumen penilaian yang disusun guru hendaklah mampu merangsang kemampuan berpikir peserta didik. Melalui instrumen yang diberikan, diharapkan peserta didik mampu melatih dan mengembangkan kemampuan bernalarnya. Peserta didik tidak lagi menerka-nerka jawaban tetapi menjalani proses berpikir.

Selain itu, dalam melakukan penilaian guru hendaklah bersifat fleksibel. Artinya jawaban yang dikehendaki tidaklah bersifat textbook. Dengan adanya keluasan dalam memberikan jawaban, peserta didik tidak lagi terbelanggu dalam berpikir. Peserta didik dapat berpikir dan mengungkapkan ide seluas-luasnya.

Membuat peserta didik senang. Selama ini kegiatan pembelajaran yang dilakukan lebih banyak membuat guru senang. Artinya, kegiatan yang dilakukan lebih banyak sesuai dengan keinginan guru, bukan membuat peserta didik senang. Karena itu, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan hendaklah memperhatikan perbedaan peserta didik. Dengan memperhatikan perbedaan modalitas belajar dan kemampuan peserta didik, kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat menampung aspirasi sebagian besar peserta didik.

Jangan terjebak rutinitas. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan hendaklah bermakna bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Dalam melaksanakan pembelajaran. guru jangan terjebak dalam rutinitas belaka. Kegiatan yang berifat rutinitas adalah statis, tidak ada dinamika yang berarti. Karena itu, guru perlu mengubah kegiatan pembelajaran ke arah kegiatan pembelajaran yang produktif.

Sudah saatnya guru melakukan kegiatan pembelajaran yang bermakna, dan dinamis. David P.Ausubel mengemukakan, pembelajaran yang bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana siswa lebih mudah memahami dan mempelajari, karena guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sehingga mereka dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya.
Pembelajaran yang dinamis berproses secara online dengan mengintegrasikan strategi penguatan (reinforcement), peningkatan mutu materi pelajaran, meningkatkan kemudahan menggunakan perangkat teknologi, dan dukungan pendidik dalam meningkatkan mutu proses dan mutu hasil belajar siswa. Karena itu, guru perlu meningkatkan penguasaannya terhadap teknologi informasi dan komunikasi sehingga pembelajaran lebih dinamis dan menarik.

Kegiatan belajar yang selama ini bersifat kaku dan monoton sudah saatnya diubah menjadi suasana yang segar dan demokratis. Suasana yang kaku menyebabkan terciptanya jarak yang besar antara guru dengan peserta didik. Sedangkan suasana yang menoton mengakibatkan peserta didik menjadi bosan dan tidak bergairah untuk belajar.
Pembelajaran yang demokratis menyebabkan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan hangat dan menyenangkan bagi peserta didik. Suasana yang demokratis mengakibatkan terciptanya susana yang kondusif dalam belajar. Suasana yang demikian mampu mengin spirasi peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.

Dari kuantitatif menjadi kualitatif. Kegiatan pembelajaran yang mengutamakan pencapaian target secara kuantitatif semata sudah harus ditinggalkan. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan hendaklah mengutamakan pencapaian target secara kualitatif.
Guru jangan hanya menyelesaikan target KD yang harus disajikan, tetapi yang lebih utama adalah kualitas pelaksanaan dan hasil pembelajaran.

Sejalan dengan pemberlakuan kurikulum 2013, guru hendaklah mengubah kultur pembelajaran. Dengan berubahnya kultur pembelajaran di sekolah, diharapkan akan terciptalah insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, sesuai dengan tema pengembangan kurikulum 2013 tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *