MEMPERSIAPKAN LULUSAN SMK MEMASUKI DUNIA KERJA MELALUI MATERI START ( SMK Teaching Material for Application, Recruitment and Transition to Work )

Dalam era kompetisi saat ini kita sebagai Negara harus mampu menghadapi berbagai macam hal yang diakibatkan oleh perkembangan tersebut. Dimana saat ini memasuki masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan salah satu peluang sekaligus hambatan bagi setiap negara termasuk Indonesia.  Pendidikan    merupakan    salah    satu    faktor    dalam    menentukan    strategi pembangunan. Strategi pembangunan salah satunya adalah dapat dilakukan melalui  pendidikan,  pembelajaran  dan  fasilitas.

Penyelenggaraan  pendidikan  karakter melalui  pengembangan  etika  mencakup  perencanaan,  pengorganisasian,  pelaksanaan dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Pengembangan etika yang merupakan perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan  UUD1945  dilatarbelakangi  oleh  realita  permasalahan  kebangsaan  yang terjadi saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayati nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi dan melemahnya kemandirian bangsa (Marlyn Laoere.2015).

Sekolah Menengah Kejuruan mempunyai berbagai program keahlian sebagai pencetak peserta  didik yang menghasilkan  calon tenaga kerja  diharapkan  dapat mampu dan bersaing. Melalui pendidikan kecekapan dalam  soft skill (kemampuan non teknis baik personal maupun interpersonal)  bagi peserta didik diharapkan mampu untuk meningkatkan karakter jujur, dapat dipercaya, bertanggung jawab, rasional, objektivitas, dan relevan yang harus dimiliki  oleh  seorang  pekerja, Pendidikan etika pada mata diklat tertentu disekolah telah dapat dilakukan namun perlu dilakukan pemantapan lagi baik dari segi materi ataupun lainya.

             Dunia kerja sangatlah berbeda dari kehidupan yang selama ini diketahui dan dijalani oleh para siswa baik di sekolah  maupun  di  lingkungan pribadi mereka. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa masa transisi dari sekolah ke dunia kerja tidaklah mudah. setelah kelulusan kelas 3 (tiga) SMK. euforianya pasti masih terasa.Tetapi mungkin tidak berlama-lama, karena setelah itu masuk masa-masa kebingungan, mau kemana setelah tamat Ketika masih Sekolah, hal ini mungkin belum terpikirkan dengan jelas, karena masih terfokus untuk belajar materi-materi pelajaran di sekolah dan juga tuntutan harus mencapai nilai tertentu agar dapat lulus Ujian Akhir Nasional.

Pendidikan kejuruan sebagai salah satu bagian dari sistem pendidikan nasional memainkan peran yang sangat penting bagi terwujudnya angkatan tenaga kerja nasional yang terampil. Pendidikan kejuruan diperuntukkan bagi anak yang ingin memperoleh keterampilan untuk dapat bekerja setelah menamatkannya. Terdapat dua indikator keberhasilan SMK di mata masyarakat. Salah satu indikator tersebut adalah tingkat kelulusan sedang lainnya adalah terserapnya lulusan ke dunia kerja.

Sekolah Menengah Kejuruan Sangat diharapkan dapat mampu menghasilkan lulusan  yang  terampil  dan  siap  menghadapi  pasar  kerja.  Menghadapi  masyarakat ekonomi ASEAN tidak hanya dilihat kemampuan intelektualnya saja tetapi karakteristik yang ada pada diri setiap individu baik itu tanggung jawab, etika, moral juga menjadi beberapa  faktor  yang  dipertimbangankan. Namun pada kenyataanya  tamatan  SMK hanya diakui oleh sekolah sendiri dan masih minimnya kepercayaan dunia usaha dan industri. Pendidikan kejuruan model lama memiliki kelemahan yaitu, penyelenggaraan pendidikan secara sepihak sehingga siswa tertinggal oleh kemajuan dunia usaha atau industri,  tidak  jelas  kompetensi  yang  dicapai,  dan  tidak  mengakui  keahlian  yang diperoleh di luar sekolah (Tri, dalam Iin Marlyn Laoere. 2015).

Di mana ketika SMK mencapai tingkat kelulusan 100 % tetapi jumlah lulusan yang kesulitan memperoleh pekerjaan lebih dari 50% (LPMP JATENG, 2015). Hal itu disebabkan karena sebagian besar lulusannya tidak berdaya dalam pertarungan di bursa kerja atau pada saat seleksi banyak peserta didik harus didiskualifikasi karena tindakan indisipliner serta gagal saat wawancara karena tidak menguasai budaya kerja.  Sehingga SMK perlu membenahi pola pembinaan mental peserta didiknya agar dapat diterima di dunia kerja. Sekolah Menengah Kejuruan harus memfokuskan pada pendidikan etika, kerja sama, komunikasi, inisiatif, kreatif dan pemikiran analitis.

SMK Teaching material for Application, Recruitment and Transition to Work (START) bagi guru SMK merupakan bahan ajar interaktif mengenai persiapan diri memasuki dunia kerja. Materi ini bertujuan untuk membantu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mempersiapkan siswa SMK agar mampu bersaing dalam memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan karir lebih lanjut. START!  terdiri atas empat belas unit bahan ajar interaktif yang penting dan relevan dengan proses transisi ke dunia kerja, sehingga membantu para siswa agar lebih siap dalam menghadapi ruang lingkup pekerjaan yang luas Topik tersebut dipilih ber- dasarkan masukan dari para konselor SMK yang mendapatkan bantuan Program SED-TVET. Para konselor tersebut selama ini terlibat aktif pada layanan bimbingan karir di sekolah.

Topik-topik tersebut antara lain:

  1. 1. Bakat, Potensi dan Kelebihan
  2. 2. Pekerjaan Impian
  3. 3. Mencari Pekerjaan
  4. 4. Membuat Riwayat Hidup (CV)yang baik
  5. 5. Membuat Surat Lamaran Kerjayang Baik
  6. 6. Mempersiapkan Diri untuk Wawancara Kerja
  7. 7. Yang Boleh dan Tidak Boleh saatWawancara Kerja
  8. 8. Memperkenalkan Diri secaraEfektif dalam Wawancara Kerja
  9. 9. Memahami Perjanjian Kerja
  10. 10. Membangun Motivasi saat GagalMencari Pekerjaan
  11. 11. Menghadapi Rekan Kerja danAtasan
  12. 12. Mengelola Waktu dan Diri dengan Baik
  13. 13. Mengelola Keuangan
  14. 14. Belajar Sepanjang Hayat

Dengan dilengkapi  video pengantar, START! dirancang sedemikian rupa agar menarik dan cukup mudah dipahami oleh para siswa. Setiap modul dapat berdiri sendiri dan tidak harus diberikan secara berurutan, sehingga pengajar dapat memilih unit pengajaran dengan bebas, tergantung kebutuhan para siswa. START  terdiri atas 14 unit bahan ajar yang dapat berdiri sendiri dan dipilih sesuai dengan kebutuhan para siswa.  Setiap unit memiliki struktur sebagai berikut:

 – Halaman Depan

 – Rencana Pelajaran

 – Lembar Pengantar dan Metode  Didaktik

 – Lembar Kerja Siswa

 – Lembar Jawaban bagi Pengajar

 – Lembar Evaluasi

 – Tambahan: Lembar Latar Belakang

Beberapa unit ajar dilengkapi dengan video pengantar pendek berdurasi 3 hingga 5 menit. Video tersebut bertujuan untuk membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih interaktif. Secara umum semua unit pembelajaran memiliki struktur proses yang sama, yaitu:

  1. Memutar video pengantar
  2. Berdiskusi terbuka secara singkat  mengenai hal yang salah yang

     ditampilkan di dalam video

  1. Guru memberikan pengantar mengenai elemen yang akan di pelajari.
  2. Melakukan kegiatan di kelas
  3. Penutup

 Langkah 1. Memutar Video Pengantar

Video pengantar disiapkan untuk memberikan inspirasi bagi para siswa di awal pelajaran. Video tersebut juga  memberikan gambaran mengenai  materi apa yang akan mereka pelajari. Dua karakter utama dalam video, yakni Edu dan Seno sengaja di tampilkan bertentangan  untuk membentuk perbandingan mudah dalam menunjukkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.   Edu memainkan peran negatif yang selalu membuat kesalahan, sementara   Seno memainkan peran positif yang  sukses dalam setiap langkah yang diambil untuk mendapatkan pekerjaan yang diimpikan. Beberapa kesalahan yang dilakukan  oleh Edu memiliki tiga karakteristik:

  1. Kesalahan yang cukup nyata
  2. Kesalahan yang umum dilakukan
  3. Kesalahan yang benar-benar harus dihindari oleh siapapun

Analisis detil mengengenai hal yang salah dapat menimbulkanl hal yang salah dapat meningkatkan efek  pembelajaran bagi para siswa.

 Langkah 2 Diskusi Hal yang salah

Setelah menyaksikan video, guru diharapkan memfasilitasi para siswa berdiskusi secara singkat untuk mengetahui kesan apa saja yang dimiliki para siswa. Usahakan untuk mengumpulkan jawaban sebanyak mungkin. Beri ke sempatan agar siswa dapat memberikan pendapat dan menghormati pendapat masing-masing sekalipun berbeda.  Peran guru pada diskusi tersebut bukan sebagai penentu benar atau salahnya pendapat siswa melainkan sebagai pengarah/ fasilitator.  Berikut beberapa pertanyaan pancingan yang perlu diajukan untuk mendorong diskusi yang hidup antar

siswa, antara lain:

  1. Kesalahan apa yang dilakukan oleh Edu yang ditampilkan di dalam

     video?

  1. Bagaimana Seno dapat melakukan hal dengan baik?
  2. Apa yang dapat dipelajari bersama dari tayangan video tersebut?

Langkah 3 :Pengantar

Sebelum memulai kegiatan utama  START!dari unit pembelajaran  guru diharapkan untuk menyampaikan secara singkat poin-poin penting yang akan diajarkan:

  1. Apa yang akan dipelajari pada unit pembelajaran ini
  2. Elemen-elemen penting
  3. Hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan fokus

Poin tersebut disesuaikan dengan lembar pengantar yang ada di setiap modul.

Langkah 4 Kegiatan Utama 

Kegiatan kelas lebih banyak didukung dengan lembar kerja siswa yang sudah disiapkan dalam CD  START ROM.  Kegiatan utama terfokus pada siswa dan bertujuan untuk mengajak mereka memahami isi materi yang ada melalui kegiatan (learning by doing), baik dalam kelompok, berpasangan maupun kerja mandiri. Secara umum, guru diminta untuk agar kegiatan di kelasberjalan dengan baik dan dapat  menghasilkan solusi yang masuk  akal.

Metode didaktik yang berpusat pada siswa bertujuan untuk membantu mereka untuk memahami materi pelajaran dengan cara mengalami sendiri.  Di samping itu, metode tersebut dipilih agar siswa mampu bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan  sesuatu.

   Langkah 5: Penutup

Setiap unit pembelajaran ditutup dengan kesimpulan mengenai hal yang dipelajari. Sebaiknya  kesim- pulan tersebut dilakukan oleh siswa.

  1. Solusi

 Dalam memfasilitasi materi ajar START yang paling dibutuhkan oleh guru adalah keterbukaan pikiran (open minded), kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi. Disamping itu, sikap fleksibel dan peka terhadap kebutuhan para siswa juga penting agar dapat mencairkan suasana. Berikut beberapa kiat yang perlu diketahui oleh guru sebelum melakukan fasilitasi materi ajar START.

Metode Interaktif

 Materi ajar START! didesain berdasarkan  metode pengajaran interaktif yang berfokus pada siswa. Dibandingkan dengan metode pembelajaran klasik satu arah, pengajaran interaktif memungkinkan siswa untuk berperan aktif dan berpartisipasi kegiatan. Metode ini memungkinkan siswa untuk menghubungkan isi dan informasi yang didapat dengan hal-hal lain di sekitarnya, sehingga tercipta efek pembelajaran yang kuat.  Di samping itu, metode pembelajaran interaktif juga membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi melalui proses kerja kelompok.

 Titik Berat pada Proses, Bukan Kesempurnaan Hasil

 Metode pembelajaran interaktif bias jadi merupakan sesuatu yang baru bagi siswa. Oleh karena itu, jangan paksa siswa untuk memberikan hasil yang sempurna. Tidak semua orang memiliki kreativitas yang tinggi atau senang bekerja dalam kelompok.  Atas dasar itu, setiap kali guru member tugas kelompok, tekankan bahwa bukan kesempurnaan hasil yang terpenting, melainkan ketekunan mereka pada proses yang mereka jalani. Jelaskan pula bahwa bukan kesempurnaan hasil, melainkan proses mewujudkan ide yang dinilai.

Fleksibel

Metode pembelajaran interaktif menuntut fleksibilitas yang tinggi dari para guru. Dengan latar belakang yang berbeda, bukan tidak mungkin siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam memahami gagasan dan menyelesaikan tugas yangdiberikan.  Sekalipun guru sudah memiliki gambaran bagaimana kegiatan belajar mengajar akan berlangsung, persiapkanlah diri terhadap situasi yang ti- dak diharapkan.

Kreativitas, interaksi antar siswa dan dinamika kerja kelompok dapat saja menciptakan hasil kerja yang memuaskan, atau sebaliknya hasil yang tidak sesuai harapan. Guru diharapkan dapat fleksibel terhadap hal tersebut. Guru hanya perlu memastikan bahwa proses dan hasil kerjati dak terlalu melenceng dari topik dan isi materi.

Berpusat pada Siswa

Metode pembelajaran interaktif berpusat pada siswa yang didorong untuk Berpartisipasi secara aktif dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan pendapat dan bekerja kelompok. Perlu diingat bahwa bukan tidak mungkin ada siswa yang kurang nyaman dengan proses tersebut. Bila demikian, guru diharapkan untuk memahami perasaan siswa dan tidak memaksa mereka. Guru dapat memulai diskusi dengan menyampaikan pengalaman pribadi tentang topic yang dibahas kemudian buka diskusi dengan bertanya apakah siswa memiliki pengalaman. yang sama, atau justru pengalaman berbeda.

Dorong siswa untuk memfokuskan diri pada sisi positif diri atau hasil karya mereka, sehingga mereka lebih percaya diri. Jangan ragu untuk memberikan pujian kepada siswa.  Ketika kegiatan kerja kelompok te ngah berlangsung, jangan ragu untuk berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain dan melihat proses kerja siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.Dalam berdiskusi pastikan bahwa siswa menghormati pendapat orang lain sekalipun pendapat tersebut berbeda. Pastikan jangan sampai ada siswa yang memotong pada saatsiswa lain menyampaikan pendapatnya.Di samping itu, ajak siswa untuk menghargai hasil kerja siswa lain.

 Kesimpulan Dan Harapan

Pendidikan dalam lingkup pendidikan kejuruan tidak lepas dari aspek kurikulum,  pembelajaran,  dan  iklim  atau  budaya  di  sekolah.  Jika  tujuan  pendidikan adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan potensinya agar mampu untuk menghadapi problema kehidupan dan kemudian memecahkan secara arif dan kreatif, berarti pembelajaran pada semua mata diklat seharusnya diorientasikan ke tujuan itu dan hasil belajar juga diukur berdasarkan kemampuan yang bersangkutan dalam memecahkan problema kehidupan.

Agar semuanya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang ditetapkan maka diperlukan pengembangan aspek-aspek karakter serta kemampuan nonteknisnya dalam hal ini etika yang dihubungkan dengan subtansi mata diklat atau sebagai metode pembelajarannya.

Masyarakat ekonomi ASEAN juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakerjaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasa dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *